Kepercayaan kadangkala juga disalahgunakan. Seperti yang dialami oleh Werkudara a.k.a Bima a.k.a Sena a.k.a Bimasena dicerita "Bimasena mencari ketentraman sejati". Dengan modal kepercayaan Bimasena ke sang guru Durna, Durna mencoba membunuh Bimasena dengan cara memanfaatkan kepercayaan Bimasena ke dirinya.
Cerita dibawah ditulis kakak saya, Harwiyono.
Saya hanya copy paste untuk tulisan di bawah.

Bimasena Mencari Ketentraman Sejati
Ooooong bumi gunjang ganjing langit kelap-kelap kaaaaton... Oooong... trok
tok tok tok...
Sejenak sang guru Durna menahan rasa sedihnya karena para Kurawa muridnya
yang selama ini selalu menyuapnya dengan kekayaan dan martabat,
merengek-rengek agar Durna mau merencanakan pembunuhan atas Bimasena, murid
kesayangannya. Para kurawa yakin bahwa jika Bimasena dapat dibunuh, maka
pandawa yang lainnya lebih mudah mengalahkannya. Sementara sang guru Durna
merasa sayang karena Bimasena memiliki kekuatan fisik dan moral yang sangat
menakjubkan, jauh menonjol dari para murid-muridnya yang lain. Bimasena
adalah satu-satunya murid yang paling antusias dalam pelajaran ilmu
kesejatian hidup.
Tapi kekayaan dan martabat di Astina ternyata memenangkan pertarungan batin
dalam diri sang guru. Rencana jahat pun dia susun. Sang guru tahu, bahwa
satu-satunya jalan untuk membunuh Bimasena hanyalah kekuatan alam. Gunung
yang tertinggi dengan jurang yang curam atau samudra yang luas dengan
palung-palungnya yang sangat dalam. Sang Durna ingin memanfaatkan karakter
Bimasena yang selalu menurut dan sangat setia kepadanya.
Sementara itu, Bimasena sedang merasa sakit hatinya. Seperti ada beban yang
menghimpit batinnya dan membuat ia tidak merasa tentram. Memikirkan
kejahatan para sepupunya, Kurawa, menyaksikan keserakahan mereka, membuat
ia tidak bisa tidur. Hanya gurunya, Durna, tempat ia mendiskusikan beban
batinnya. Maka keinginan yang mulia dari Bimasena untuk mencari kesejatian
dan ketentraman hidup bertemu dengan rencana jahat sang guru.
Sang guru bersabda bahwa kesejatian dan ketentraman hidup itu ada dalam air
kehidupan (perwitasari) yang ada di atas gunung keramat tertinggi. Sang
Bima pun tak bisa dihalangi untuk berangkat bersama tangisan ibunya, Kunthi
dan restu saudara-saudaranya, Pandawa.
Dalam perjalanan pendakian itu Bima tidak hanya mampu mengalahkan keganasan
alam tapi juga mengalahkan kekuatan fisiknya sendiri. Pengembaraan ini
membawanya kepada Arimbi, putri cantik kerajaan raksasa yang kagum akan
ketangguhan fisik dan mentalnya. Seorang manusia yang bermental raksasa.
Mereka menikah. Dan anugrah untuk Bima adalah seorang anak yang diberi nama
Gatotkaca. Seorang ksatria yang mampu mengalahkan hukum alam yaitu
gravitasi bumi dan tidak mempan oleh senjata buatan manusia. Sebuah
perjalanan yang tadinya dirancang oleh gurunya untuk menjadi jalan
kematian, justru mendatangkan anugerah, dengan lahirnya seorang anak yang
patut dibanggakan.
Tetapi Bimasena tidak mau berhenti sampai di sini, kesejatian hidup belum
ia temukan di sini. Sang guru mengatakan di puncak gunung, dan ia pun
melangkah kembali bersama restu Arimbi. Di puncak gunung, sampailah ia
dalam perjumpaan dengan dua raksasa sakti yang mengeroyoknya. Bima tidak
putus asa hingga kedua raksasa itu dikalahkannya. Betapa terkejutnya ia,
ketika melihat dua raksasa itu seketika berubah ujud menjadi dua dewa
kahyangan. Dan keduanya mengucapkan terimakasih kepada sang Bima, karena
kemauan keras sang Bima untuk mengalahkan segala rintangan telah
membebaskan mereka dari kutukan. Hanya apabila ada seorang anak manusia
mampu mengalahkan kedua raksasa itu, maka kutukan itu terbebaskan. Bagi
kedua dewa ini, Bimasena adalah mesias yang mereka tunggu selama
bertahun-tahun. Perjalanan kematian sang Bima versi guru Durna, telah
menjadi jalan kelepasan bagi kedua dewa kahyangan. Sang Bima menyampaikan
pencariannya yaitu air kehidupan, tetapi kedua dewa bersabda bahwa yang ia
cari tidak ada di atas gunung ini.
Bimasena dengan sedih kembali kepada gurunya Durna, dan menceritakan
kegagalannya menemukan air kehidupan. Sedangkan sang guru semakin takjub
karena murid kesayangannya masih hidup. Dan kembali ia merancang jalan
kematian Bima dengan bersabda bahwa air kehidupan itu pasti ada di dasar
samudera terdalam.
Tanpa menunggu lama, sang Bima segera meloncat ke samudera. Perlahan dia
masuk ke dalam aliran samudera yang besar dan makin menenggelamkannya.
Tanpa ia sadari seekor ular naga, raja penguasa samudera telah melilitnya.
Sang Bima ternyata tidak mudah menyerah, bahkan mampu menaklukkan raja
Naga. Karena kekagumannya, sang raja menyerahkan putrinya sebagai istri
Bima. Dan lahirlah Antareja, seorang ksatria yang juga mampu mengalahkan
hukum alam. Dialah satu-satunya ksatria yang mampu keluar masuk ke dalam
tanah dengan bebasnya dan tidak bisa mati kecuali oleh lidahnya sendiri.
Betul-betul anugrah yang luar biasa untuk sang Bima. Rancangan kematian
keduanya, yang dilakoninya dengan setia, membawa Bima pada berkah hidupnya
yang kedua. Tetapi itupun tidak menghentikan langkah sang Bima mencari
ketentraman hidup. Dia meninggalkan istana samudra turun menuju dasar laut
yang terdalam.
Dalam perjalanan menuju dasar, Bima menuju kepada batas kesadarannya yang
membawanya bertemu Dewa Ruci, dewa dari segala roh manusia (God of Human
Spirit). Uniknya, sang dewa memiliki kemiripan dengan Bimasena, dari ujung
rambut sampai ujung kaki, hanya dalam wujud yang jauh lebih kecil, hanya
segenggaman tangan Bima. Dalam hampir ketidak sadarannya, sang Bima
mengutarakan niatnya untuk mencari air kehidupan yang dapat membawanya pada
ketentraman batin. Kata-kata yang keluar dari mulut sang Bima tak terasa
mengalir dalam bahasa kromo halus. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan
selama ini kepada orang lain bahkan juga kepada para dewa kahyangan. Dewa
Ruci bersabda, bahwa untuk mendapatkan ketentraman hidup, sang Bima harus
masuk ke dalam tubuhnya melalui telinganya. Suatu kemustahilan menurut sang
Bima. Tapi sang dewa menuntunnya, meletakkan segala beban batin yang selama
ini memenuhi hati dan pikiran Bima, melepaskan amarah terpendam dalam
hatinya dan mengikisnya dengan pengampunan, mengosongkan dirinya hingga
seketika roh sang Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci. Dalam tubuh dewa
Ruci, Bima menemukan ketentraman batin, kedamaian jiwa dan ketenangan
pikir. Menemukan kesejatian hidup yang selama ini dia cari. Hingga
memutuskan untuk tetap tinggal disana. Tapi sang Dewa Ruci mengingatkan
bahwa tugas hidupnya di bumi belum selesai. Masa depan yang gilang-gemilang
sudah menunggunya. Tapi bila ajalnya tiba kelak, ia akan masuk ketempat
ini.
Bimasena pulang dengan hati yang tentram. Membawa anak-anak dan istrinya
kepada sang Ibu Kunti dan saudara-saudaranya Pandawa. Bimasena telah
menemukan kesejatian hidup, bukan diatas gunung atau di dalam samudra, tapi
terpancar dalam hatinya saat pertemuannya dengan sang dewa segala roh, Dewa
Ruci. Rancangan kecelakaan yang dibuat oleh sang guru Durna, atas seijin
Gusti Allah telah menjadi perjalanan spiritual yang mengubah Bimasena
menjadi pribadi yang lengkap dan mengenal tujuan hidupnya di bumi.
Labels: Culture, renungan, Wayang
Read more!